Wednesday, 25 September 2013

Prinsip Kualitas dan Six Sigma

Prinsip Kualitas dan Six Sigma 

Manajemen kualitas modern didasari oleh tiga prinsip dasar, yaitu: 
1. Fokus pada pelanggan 
2. Partisipasi dan kerjasama semua individu di dalam perusahaan 
3. Fokus pada proses yang didukung oleh perbaikan dan pembelajaran secara terus-menerus Prinsip-prinsip ini merupakan landasan filosofi six sigma, dan walaupun terdengar sederhana, amat berbeda dengan praktik manajemen tradisi lama. 

Dahulu, perusahaan jarang berusaha memahami tuntutan pelanggan eksternal, apalagi pelanggan internal. Para manajer dan spesialis fungsi-fungsi tertentu mengontrol proses produksi, sementara para pekerja diberitahu apa yang mesti dilakukan dan bagaimana melakukannya, tanpa pernah dimintai masukan. 

Kerja tim dan partisipasi karyawan nyaris tidak ada. Sejumlah kesalahan dan cacat produksi ditoleransi dan dikendalikan oleh inspeksi pascaproduksi. Peningkatan kualitas biasanya merupakan hasil dari gebrakan teknologi dan bukannya berasal dari upaya perbaikan berkelanjutan. 

Dengan fokus yang sungguh-sungguh pada kualitas, maka sebuah organisasi akan secara aktif berusaha untuk terus-menerus memahami kebutuhan serta tuntutan pelanggan, berusaha untuk membangun kualitas dan mengintegrasikannya ke dalam proses-proses kerja dengan cara menimba ilmu serta pengalaman dari para karyawannya, dan terus memperbaiki semua sisi organisasi. 

Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini merupakan kunci dari six sigma (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 15).

Kualitas Sebagai Tuntutan Pelanggan

Kualitas Sebagai Tuntutan Pelanggan

Kebanyakan orang mengartikan pelanggan sebagai pembeli akhir atau pengguna akhir dari sebuah produk atau jasa. Misalnya seseorang yang membeli sebuah mobil untuk keperluan pribadi atau seorang tamu hotel diartikan sebagai pelanggan akhir. Pelanggan-pelanggan ini lebih tepat dikatakan sebagai konsumen (consumer). 

Tentu saja memenuhi tuntutan konsumen merupakan tujuan bisnis manapun. Tetapi sebelum sebuah produk mencapai konsumen, produk tersebut akan melalui rantaian perusahaan atau departemen, di mana tiap perusahaan atau departemen ini menambah nilai pada produk tersebut. 

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mesin mobil dapat membeli baja dari perusahaan baja, memproduksi mesin, lalu mengirimkan mobil ke pabrik perakitan. Pabrik mesin tersebut dengan demikian menjadi pelanggan dari perusahaan baja, dan pabrik perakitan adalah pelanggan pabrik mesin. Pelanggan-pelanggan ini disebut pelanggan eksternal (external). 

Tiap karyawan dalam perusahaan juga memiliki pelanggan internal (internal customer) yang mendapatkan produk atau jasa dari pemasok di dalam perusahaan tersebut. Departemen perakitan contohnya adalah pelanggan internal dari departemen mesin, dan manajer adalah pelanggan internal sekretaris. Kebanyakan bisnis tersusun dari “rantaian pelanggan seperti ini”. 

Dengan demikian, tugas seorang karyawan tidak hanya sekedar menyenangkan supervisornya, melainkan juga memuaskan pelanggan internal dan eksternalnya. Kegagalan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan tuntutan pelanggan internal dapat menghasilkan produk yang berkualitas rendah, sebagai contoh sistem komputerisasi pemesanan kamar hotel yang buruk membuat petugas pemesanan kamar kesulitan melakukan pekerjaannya, sehingga mempengaruhi kepuasan pelanggan. Mengidentifikasi siapa saja pelanggan tiap pihak serta memahami harapan mereka sangat penting dalam mencapai kepuasan pelanggan. 

 Cara berpikir ini merupakan perubahan radikal dari cara berpikir organisasi tradisional yang biasanya sangat terkotak-kotak secara fungsional. Cara berpikir ini membuat karyawan memahami peran mereka di dalam sistem yang lebih besar serta kontribusi mereka terhadap produk akhir (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 14).

Kualitas Dari Sudut Pandang Operasi

Kualitas Dari Sudut Pandang Operasi 

Kualitas dari sudut pandang operasi didefinisikan sebagai hasil yang diinginkan dari proses operasi, atau dengan kata lain kepatuhan terhadap spesifikasi (conformance to specification). Spesifikasi (specification) adalah target dan tingkat toleransi yang ditentukan oleh para desainer produk dan jasa. 

Target adalah nilai ideal yang harus diupayakan oleh produksi, sedangkan batas toleransi ditentukan karena desainer menyadari bahwa tidak mungkin target tercapai setiap saat pada proses produksi. Sebagai contoh, dimensi sebuah suku cadang dapat ditentukan sebagai “0,236 +/- 0,003 cm” yang berarti bahwa target atau nilai ideal suku cadang tersebut adalah 0,236 cm, dan variasi yang diperbolehkan adalah 0,003 cm dari target (nilai toleransi 0,006 cm). 

Dengan demikian, dimensi dalam kisaran 0,233 hingga0,239 cm dapat diterima dan dapat dikategorikan patuh pada spesifikasi. Sama halnya di bidang jasa, “ketepatan waktu” sebuah pesawat dapat didefinisikan dalam kisaran 15 menit dari waktu kedatangan yang dijadwalkan. Target dalam kasus ini adalah jadwal kedatangan, dan batas toleransinya adalah 15 menit. 

Kepatuhan terhadap spesifikasi merupakan kunci definisi kualitas, karena definisi ini menyediakan sebuah cara untuk mengukur kualitas. Tetapi spesifikasi tidak ada artinya jika tidak diterapkan kepada karakter produk yang bermakna bagi konsumen (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 13).

Kualitas Dari Sudut Pandang Pelanggan

Kualitas Dari Sudut Pandang Pelanggan 

Definisi kualitas yang lain didasarkan pada asumsi bahwa keinginan konsumen menentukan kualitas. Tiap individu memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda, sehingga standar kualitas pun menjadi beragam, yang akhirnya menuju pada definisi kualitas berdasarkan pengguna. Kualitas adalah kelayakan pakai (fitness for intended use) atau seberapa produk tersebut melakukan fungsinya. Contohnya, baik sedan Cadillac maupun Jeep layak untuk digunakan, tapi keduanya melayani kebutuhan yang berbeda dari kelompok pemakai yang juga berdeda. 

Jika anda memerlukan sebuah kendaraan untuk melaju di jalan tol dengan assesoris yang mewah, maka sebuah mobil Cadillac akan lebih memenuhi kebutuhan anda. Tapi jika anda memerlukan sebuah mobil untuk dibawa berkemah, memancing, atau melakukan perjalanan ke tempat ski, maka mobil jeep akan lebih dipandang layak pakai. Sebuah contoh yang menarik muncul beberapa tahun yang lalu ketika kompor dan kulkas sebuah perusahaan elektronik Amerika Serikat dikagumi oleh para pembeli dari Jepang. Sayangnya, rumah Jepang yang mungil tidak cukup luas untuk ditempati model Amerika. 

Beberapa model bahkan tidak dapat melewati pintu dapur rumah Jepang yang sempit. Walaupun kinerja produk tersebut amat baik, produk ini tidak layak pakai di Jepang. Pelanggan seringkali menilai terhadap kualitas dalam hubungannya dengan harga, hal ini disebut dengan nilai (value). Dari sudut pandang ini, produk berkualitas adalah produk yang sama bergunanya dengan produk competitor dan dijual pada harga yang lebih rendah, atau yang menawarkan kegunaan atau kepuasan yang lebih tinggi pada harga yang sebanding. 

Dengan demikian, seseorang bisa saja membeli produk generik dibandingkan dengan produk bermerek, Jika produk tersebut memiliki kinerja sebaik produk bermerk pada harga yang lebih rendah. Contoh nyata dari cara pandang ini tampak jelas pada perbandingan harga pasar mobil Amerika dan Jepang (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 12-13).

Kualitas dan Sudut Pandang Desain

Kualitas dan Sudut Pandang Desain 

Salah satu definisi dari kualitas mengartikan kualitas sebagai fungsi dari variabel yang spesifik dan terukur. Perbedaan kualitas merupakan selisih dari jumlah atribut dari suatu produk, misalnya jumlah jahitan per inci pada sebuah kaos atau jumlah silinder di dalam sebuah mesin. Jadi menurut pengertian ini, jumlah atribut produk yang lebih tinggi setara dengan kualitas yang lebih baik. 

Sebagai konsekuensinya, kualitas seringkali dihubungkan dengan harga. Semakin mahal harga suatu produk, semakin baik kualitasnya, meskipun sebagian besar konsumen tahu bahwa ini tidak selalu benar. Tapi istilah produk yang digunakan dalam buku ini yang bisa diartikan sebagai barang produksi maupun jasa, tidak harus berharga mahal untuk dianggap sebagai barang berkualitas oleh konsumen (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 12).

Kualitas Sebagai Tolak Ukur Kinerja Bisnis

Kualitas Sebagai Tolak Ukur Kinerja Bisnis 

Upaya dalam memperbaiki kualitas produk, proses, dan untuk lebih lengkapnya, semua aspek kinerja bisnis, merupakan kekuatan yang medorong six sigma. Kualitas bisa menjadi konsep yang membingungkan, sebagian karena banyak orang memandanga kualitas berdasarkan peranan individu mereka dalam rantai nilai produksi-pemasaran. 

Selain itu, pengertian kualitas terus berevolusi seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaan profesi yang berhubungan dengan kualitas. Tidak ada satu pun konsultan maupun pelaku bisnis yang setuju pada satu pengertian kualitas yang universal. Sebuah penelitian yang menanyakan tentang definisi kualitas kepada manajer 86 perusahaan di bagian timur Amerika Serikat menghasilkan beberapa jawaban yang berbeda, diantaranya : 

1. Kesempurnaan 
2. Konsistensi 
3. Pengurangan limbah 
4. Kecepatan pengiriman 
5. Ketaatan pada peraturan dan prosedur 
6. Penyediaan produk yang baik dan bermanfaat 
7. Melakukan hal yang benar sejak awal 
8. Memuaskan pelanggan 
9. Pelayanan pelanggan secara total dan memuaskan 

“Definisi” ini berhubungan dengan disain produk (no. 6), kepuasan pelanggan (no. 8 dan 9), dan kinerja operasi (no. 1, 2, 3, 4, 5, dan 7). Artinya, melihat pengertian kualitas dari berbagai sudut dapat membantu kita untuk memahami peran kualitas di berbagai bagian sebuah organisasi bisnis (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 11-12). Halnya dengan warranty charges, returned material/product, complaint adjustment, dan lain-lain.

2. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum kesalahan terjadi (preventive cost) seperti pelatihan operator, kelengkapan peralatan kerja, instruksi kerja, inspeksi yang tepat, dan lain-lain. 

3. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan kegiatan inspeksi dan evaluasi produk (inspection/appraisal cost) seperti biaya untuk incoming material inspection, inspection and test, kalibrasi peralatan kerja dan pengukuran, material/produk yang rusak karena kegiatan destructive test, dan lain-lain. 

Berdasarkan suatu penelitian, maka total quality cost yang terdiri atas failure cost, preventive cost dan inspection cost tersebut di atas akan meliputi sekitar 15% dari total production cost, dengan perincian detail sebagai berikut : 

Failure cost : 70 % 
Preventive cost : 5 % 
Inspection/Appraisal cost : 25 % 
Total quality cost : 100 % 

Pengertian mengenai biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengendalian kualitas (quality cost) akan selalu dikaitkan dengan produk-produk cacat (defect), yaitu biaya untuk menemukan, memperbaiki, dan menghindari/mencegah cacat. Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa perusahaan di Amerika Serikat diperoleh data bahwasanya kesalahan-kesalahan ,yang terjadi yang mempengaruhi kualitas produk, 15% berasal atau merupakan tanggung jawab operator langsung, sedangkan 85% merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan itu sendiri (Wignjosoebroto, 2006: 256-258).

2. Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding). 
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses inspeksi, pengujian, analisis statistik, dan lain-lain. Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau standar yang telah ditetapkan. 

3. Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction). 
Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan koreksi- koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pengendalian kualitas. 

Pelaksanaan yang cermat terhadap upaya pengendalian kualitas dari rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of comformance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto, 2006: 251-254).

Analisa Statistik dalam Pengendalian Kualitas

Analisa Statistik dalam Pengendalian Kualitas

Metode dasar untuk pelaksanaan pengendalian kualitas adalah penggunaan metode statistik yang berupa : 

a. Bagan pengendalian (control chart). 
b. Inspeksi berdasarkan sampling. 
Metode statistik tidak dapat dijalankan tanpa adanya data, dengan demikian data merupakan unsur yang terpenting di dalam pelaksanaan pengendalian kualitas. Berdasarkan data ini, maka kita akan memiliki landasan untuk menganalisis dan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Fakta yang ada haruslah dapat dicari dan dituangkan dalam bentuk data, karena itu data yang diperoleh harus teliti apakah : 

a. Dapat mengungkapkan fakta secara lengkap? 
b. Sudah sesuai dengan fakta yang sebenarnya? 

Agar data yang diambil benar-benar mencerminkan kondisinya (fakta/populasi) yang ada, maka proses pengambilan data harus dilaksanakan secara teliti. Kalau data tersebut harus diambil berdasarkan sampling, maka data tersebut harus diambil berdasarkan metode statistik agar benar-benar bisa mewakili populasinya. 

Satu hal yang perlu dicatat bahwa, data yang telah dikumpulkan dianalisis dan disimpulkan harus relevan dengan permasalahan yang ada, sehingga tindakan yang kemudian diambil akan mampu pula menyelesaikan permasalahannya. 

Pengumpulan data akan memiliki kegunaan antara lain : 

1. Alat untuk memahami situasi nyata yang sebenarnya. 
Berdasarkan data ini, maka terjadinya penyimpangan-penyimpangan akan dapat diketahui dan persentase kesalahan atau cacat dapat diukur. Penyimpangan ini akan dapat diketahui dengan jalan mengamati data yang diperoleh, kemudian membandingkan dengan standar performance atau target yang telah ditetapkan. 

2. Alat untuk menganalisis keadaan nyata dan permasalah yang ada. 
Berdasarkan data yang diperoleh, maka akan bisa dicari hubungan antara penyimpangan yang terjadi (akibat) dengan faktor-faktor signifikan yang dianggap sebagai sumber terjadinya kesalahan (sebab). 

3. Alat untuk mengendalikan proses atau pekerjaan. 
Berdasarkan data yang ada, maka dapat diketahui apakah proses kerja telah berlangsung secara normal atau tidak. Disini peta kontrol (control charts) bisa digunakan untuk mengevaluasi apakah proses telah berlangsung secara normal atau tidak, selanjutnya tentu saja tindakan-tindakan korektif bisa segera diambil apabila ternyata diketahui bahwa proses berlangsung abnormal. 

4. Alat untuk pengambilan keputusan. 
Berdasarkan data yang mencerminkan fakta yang ada akan dapat diketahui dan ditetapkan apakah sesuatu sample lost harus ditolak atau diterima setelah inspeksi dilaksanakan. Disini ada 2 metode untuk melakukan inspeksi, yaitu total inspeksi atau sampling. Sesuai dengan informasi yang diperoleh ini, maka dapat disimpulkan tindakan-tindakan yang harus diambil terhadap hasil kerja (output) yang diperoleh. 

5. Alat untuk membuat rencana atau perbaikan. 
Seperti dijelaskan bahwa data akan berfungsi sebagai alat atau dasar menetapkan usaha-usaha kearah tindakan-tindakan perbaikan/korektif apabila ternyata ada proses kerja yang salah. Hal ini dilakukan setelah evaluasi terhadap kondisi nyata, sehingga tindakan korektif yang tepat bisa diambil. Dengan demikian satu hal terpenting disini ialah sample (contoh) menentukan apakah data yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi nyata atau tidak. 

Proses Pengambilan Keputusan 
Data yang diperlukan untuk aktifitas pengendalian mutu pada umumnya bisa diklasifikasikan sebagai : 

a. Data hasil pengukuran (measurement data) 
- Kadang-kadang disebut continous data atau variable data. 
- Contoh : panjang, berat, waktu, dll. b. Data hasil perhitungan (countable data) 
- Data produk atau hasil kerja disini biasanya dikategorikan sebagai baik atau cacat (atribut data). 
- Contoh : jumlah produk cacat, jumlah kesalahan kerja yang dibuat, dan lain-lain. 

Selanjutnya beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam pengumpulan data ialah : 

1. Sasaran pengumpulan data harus diidentifikasikan jelas. 
2. Pengelompokkan dan pengaturan data harus sesuai dengan maksud dan tujuan pengumpulan data. 
3. Prosedur dan proses pengumpulan data harus diketahui dengan jelas. 
4. Cara pengumpulan data dan pencatatannya yang dibutuhkan untuk pengumpulan dara ini harus ditentukan secara benar. 
5. Usahakan data dari berbagai sumber yang mungkin agar diperoleh data pembanding yang relevan. 

(Wignjosoebroto, 2006: 258-261).

Keuntungan dan Biaya Pelaksanaan Pengendalian Kualitas

Keuntungan dan Biaya Pelaksanaan Pengendalian Kualitas 

Dengan melaksanakan manajemen kualitas yang baik, maka banyak keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan, yaitu antara lain : 
- Menambahkan tingkat efisiensi dan produktifitas kerja. 
- Mengurangi kehilangan-kehilangan (losses) dalam proses kerja yang dilakukan, seperti mengurangi waste product atau menghilangkan waktu-waktu yang tidak produktif. 
- Menekan biaya dan save money. 
- Menjaga agar penjualan (sales) akan tetap meningkat, sehingga profit tetap diperoleh (meningkatkan potensi daya saing). 
- Menambah realibilitas produk yang dihasilkan. 
- Memperbaiki moral pekerja tetap tinggi. 
- Dan lain-lain. 
Semakin tinggi kualitas suatu produk akan menyebabkan semakin tinggi pula biaya/beban yang harus dipikul perusahaan. Akan tetapi yang jelas tetap diharapkan mampu dikembalikan dalam bentuk profit yang disebabkan produk yang bersangkutan memiliki daya saing tinggi. Biaya-biaya yang harus dipikul dalam kaitannya dengan program pengendalian kualitas antara lain sebagai berikut: 

1. Biaya-biaya yang dikeluarkan akibat kesalahan/cacat yang terjadi (failure cost) yang dalam hal ini bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : 
- Internal failure cost, yaitu seperti scrap, rework, retest down time, dan lain-lain. Biaya tidak akan terjadi bila tidak ada defect yang diketemukan dalam produk yang dihasilkan sebelum diterimakan ke pelanggan (customer). 
- External failure cost, yaitu biaya yang dikeluarkan akibat defect yang diketemukan setelah barang dikirim/didistribusikan dan diterima oleh customer seperti halnya dengan warranty charges, returned material/product, complaint adjustment, dan lain-lain. 

2. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum kesalahan terjadi (preventive cost) seperti pelatihan operator, kelengkapan peralatan kerja, instruksi kerja, inspeksi yang tepat, dan lain-lain. 

3. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan kegiatan inspeksi dan evaluasi produk (inspection/appraisal cost) seperti biaya untuk incoming material inspection, inspection and test, kalibrasi peralatan kerja dan pengukuran, material/produk yang rusak karena kegiatan destructive test, dan lain-lain. 

Berdasarkan suatu penelitian, maka total quality cost yang terdiri atas failure cost, preventive cost dan inspection cost tersebut di atas akan meliputi sekitar 15% dari total production cost, dengan perincian detail sebagai berikut : 

Failure cost : 
70 % 
Preventive cost : 
5 % 
Inspection/Appraisal cost : 
25 % 
Total quality cost : 
100 % 

Pengertian mengenai biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengendalian kualitas (quality cost) akan selalu dikaitkan dengan produk-produk cacat (defect), yaitu biaya untuk menemukan, memperbaiki, dan menghindari/mencegah cacat. Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa perusahaan di Amerika Serikat diperoleh data bahwasanya kesalahan-kesalahan ,yang terjadi yang mempengaruhi kualitas produk, 15% berasal atau merupakan tanggung jawab operator langsung, sedangkan 85% merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan itu sendiri (Wignjosoebroto, 2006: 256-258). 

Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding). 
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses inspeksi, pengujian, analisis statistik, dan lain-lain. Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau standar yang telah ditetapkan. 

Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction). Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan koreksi- koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pengendalian kualitas. 

Pelaksanaan yang cermat terhadap upaya pengendalian kualitas dari rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of comformance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto, 2006: 251-254).

Pengertian Pengendalian Kualitas

Pengertian Pengendalian Kualitas

Pengendalian kualitas adalah suatu sistem verifikasi dan penjagaan/perawatan dari suatu tingkat/derajat kualitas produk atau proses yang dikehendaki dengan cara perencanaan yang seksama, pemakaian peralatan yang sesuai, inspeksi yang terus menerus, serta tindakan korektif bilamana diperlukan 

(Wignjosoebroto, 2006: 252). Dengan demikian hasil yang diperoleh dari kegiatan pengendalian kualitas ini benar-benar bisa memenuhi standar-standar yang telah direncanakan/ditetapkan. Aktivitas pengendalian kualitas umumnya akan meliputi kegiatan-kegiatan : 

- Pengamatan terhadap performance produk atau proses. 
- Membandingkan performance yang ditampilkan tadi dengan standar- standar yang berlaku. 
- Mengambil tindakan apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan yang cukup signifikan (accept or reject) dan apabila diperlukan dibuatkan tindakan untuk mengoreksinya. 

Pengertian pengendalian kualitas tidaklah sama dengan kegiatan “inspeksi”. Karena justru inspeksi merupakan bagian dari kegiatan untuk mengendalikan kualitas produk atau proses, maka yang dimaksud inspeksi adalah sekedar menentukan apakah produk/proses baik (accept) atau rusak (reject). Sedangkan kegiatan pengendalian kualitas selain berkepentingan dengan upaya untuk menemukan kesalahan, kerusakan atau ketidaksesuaian suatu produk/proses dalam memenuhi fungsi yang diharapkan juga mencoba menemukan sebab- musabab terjadinya kesalahan tersebut dan kemudian alternatif-alternatif menyelesaikan masalah yang timbul. 

Kegiatan pengendalian kualitas pada dasarnya akan merupakan keseluruhan kumpulan aktifitas dimana kita berusaha untuk mencapai kondisi “fitness for use”, tidak peduli dimana aktifitas tersebut akan dilaksanakan yaitu mulai pada saat produk dirancang, diproses, sampai selesai dan didistribusikan ke konsumen. 

Kegiatan pengendalian kualitas antara lain akan meliputi aktifitas-aktifitas sebagai berikut : 
- Perencanaan kualitas pada saat merancang (desain) produk dan proses pembuatannya. 
- Pengendalian dalam penggunaan segala sumber material yang dipakai dalam proses produksi (incoming material control). 
- Analisa tindakan koreksi dalam kaitannya dengan cacat-cacat yang dijumpai pada produk yang dihasilkan. 
- Dan lain-lain. 

Selanjutnya parameter-parameter yang menentukan suatu produk harus mampu memenuhi konsep “fitness for use” ada dua macam yaitu parameter kualitas desain (quality of design) dan parameter kualitas kesesuaian (quality of comformance). 

Derajat dimana kelas atau kategori dari suatu produk akan mampu memberikan kepuasan pada konsumen secara umum dinyatakan sebagai kualitas rancangan/desain (quality of design). Dua atau lebih produk meskipun memiliki fungsi yang sama, bisa saja memberikan derajat kepuasan yang berbeda karena adanya perbedaan kualitas dalam rancangannya. Sebagai contoh bisa dilihat pada rancangan televisi berwarna dan tidak berwarna. 

Kualitas secara umum akan banyak dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : 
1. Aplikasi penggunaan 
2. Pertimbangan biaya 
3. Permintaan pasar (market demand) 

Maka di dalam merancang suatu produk haruslah dipertimbangkan masak- masak jangan sampai “over design”. 

Suatu produk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga bisa sesuai (comform) dan memenuhi spesifikasi, standar, dan kriteria-kriteria standar kerja lainnya yang telah disepakati. Dalam pemakaian nantinya, maka produk tersebut harus pula sesuai dengan fungsi yang telah dirancang sebelumnya. Kualitas kesesuaian ini akan berkaitan dengan tiga macam bentuk pengendalian (kontrol) sebagai berikut: 

1. Pencegahan cacat (defect prevention). 
Yaitu mencegah kerusakan atau cacat sebelum benar-benar terjadi. Contoh dalam hal ini seperti pembuatan standar-standar kualitas, inspeksi terhadap material yang datang, membuat peta kontrol untuk mencegah penyimpangan dalam proses kerja yang berlangsung. 

2. Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding). 
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses inspeksi, pengujian, analisis statistik, dan lain-lain. Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau standar yang telah ditetapkan. 

3. Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction). 
Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan koreksi- koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pengendalian kualitas. 

Pelaksanaan yang cermat terhadap upaya pengendalian kualitas dari rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of comformance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto, 2006: 251-254).

Definisi Pengendalian Kualitas


Definisi Pengendalian Kualitas

Secara   definitif   yang   dimaksud   dengan   kualitas   atau   mutu   suatu produk/jasa adalah derajat/tingkatan dimana produk atau jasa tersebut mampu memuaskan keinginan dari konsumen (fitness for use atau tailor made) (Wignjosoebroto, 2006: 251). Berbicara mengenai pemakai produk/jasa dalam hal ini bisa pula diklasifikasikan menurut :
a.   Manufacturer : yaitu orang yang melaksanakan proses tambahan sebelum suatu       produk   jadi   (finished   product dibuat.   Dengan   kata   lain manufacturer adalah orang yang memakai bahan baku atau bahan setengah jadi untuk menghasilkan produk akhir yang akan dikonsumsikan langsung oleh konsumen. Dalam kacamata manufacturer, maka fitness for useakan memiliki arti sebagai kemampuan untuk melaksanakan proses manufacturing dengan :
-     Produktivitas kerja (output per input) tinggi.

-     Low waste, mudah dikerjakan dan waktu yang terbuang rendah.

-     Dan lain-lain. 

b.  Penjual (merchant) : yaitu orang yang akan menjual kembali produk yang bersangkutan. Disini dia lebih bertindak sebagai penyalur, pemasok, ataupun  pedagang  barang-barang  yang  dihasilkan  oleh  manufacturer. Untuk kacamata penjual (merchant) ini, maka pengertian fitness for useakan meliputi hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran akan isi dari label dan identitas yang diberikan, perlindungan dari kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat pengiriman (handling) dan penyimpanan, kemudahan dalam proses handling, dan lain-lain.
c.   Maintenance shop : yaitu orang yang akan menggunakan produk sebagai suku        cadang    (spare    parts)    yang    diperlukan    dalam    kegiatan maintenance/repair. Disini fitness for use akan diartikan sebagai kemudahan-kemudahan dalam proses pemasangan, interchange-ability, tersedianya spare parts dalam jumlah cukup pada saat-saat yang dikehendaki, dan lain-lain.
d.  Pembeli/konsumen  :  yaitu  pemakai  langsung  dari  produk  atau  jasa (biasanya sudah merupakan produk jadi/akhir). Di mata pembeli atau konsumen, maka fitness for use akan dinyatakan sebagai tingkat kesesuaian untuk mampu memenuhi harapan dan memuaskan keinginan pelanggan (customer’s satisfaction).