Wednesday, 25 September 2013

Analisa Statistik dalam Pengendalian Kualitas

Analisa Statistik dalam Pengendalian Kualitas

Metode dasar untuk pelaksanaan pengendalian kualitas adalah penggunaan metode statistik yang berupa : 

a. Bagan pengendalian (control chart). 
b. Inspeksi berdasarkan sampling. 
Metode statistik tidak dapat dijalankan tanpa adanya data, dengan demikian data merupakan unsur yang terpenting di dalam pelaksanaan pengendalian kualitas. Berdasarkan data ini, maka kita akan memiliki landasan untuk menganalisis dan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Fakta yang ada haruslah dapat dicari dan dituangkan dalam bentuk data, karena itu data yang diperoleh harus teliti apakah : 

a. Dapat mengungkapkan fakta secara lengkap? 
b. Sudah sesuai dengan fakta yang sebenarnya? 

Agar data yang diambil benar-benar mencerminkan kondisinya (fakta/populasi) yang ada, maka proses pengambilan data harus dilaksanakan secara teliti. Kalau data tersebut harus diambil berdasarkan sampling, maka data tersebut harus diambil berdasarkan metode statistik agar benar-benar bisa mewakili populasinya. 

Satu hal yang perlu dicatat bahwa, data yang telah dikumpulkan dianalisis dan disimpulkan harus relevan dengan permasalahan yang ada, sehingga tindakan yang kemudian diambil akan mampu pula menyelesaikan permasalahannya. 

Pengumpulan data akan memiliki kegunaan antara lain : 

1. Alat untuk memahami situasi nyata yang sebenarnya. 
Berdasarkan data ini, maka terjadinya penyimpangan-penyimpangan akan dapat diketahui dan persentase kesalahan atau cacat dapat diukur. Penyimpangan ini akan dapat diketahui dengan jalan mengamati data yang diperoleh, kemudian membandingkan dengan standar performance atau target yang telah ditetapkan. 

2. Alat untuk menganalisis keadaan nyata dan permasalah yang ada. 
Berdasarkan data yang diperoleh, maka akan bisa dicari hubungan antara penyimpangan yang terjadi (akibat) dengan faktor-faktor signifikan yang dianggap sebagai sumber terjadinya kesalahan (sebab). 

3. Alat untuk mengendalikan proses atau pekerjaan. 
Berdasarkan data yang ada, maka dapat diketahui apakah proses kerja telah berlangsung secara normal atau tidak. Disini peta kontrol (control charts) bisa digunakan untuk mengevaluasi apakah proses telah berlangsung secara normal atau tidak, selanjutnya tentu saja tindakan-tindakan korektif bisa segera diambil apabila ternyata diketahui bahwa proses berlangsung abnormal. 

4. Alat untuk pengambilan keputusan. 
Berdasarkan data yang mencerminkan fakta yang ada akan dapat diketahui dan ditetapkan apakah sesuatu sample lost harus ditolak atau diterima setelah inspeksi dilaksanakan. Disini ada 2 metode untuk melakukan inspeksi, yaitu total inspeksi atau sampling. Sesuai dengan informasi yang diperoleh ini, maka dapat disimpulkan tindakan-tindakan yang harus diambil terhadap hasil kerja (output) yang diperoleh. 

5. Alat untuk membuat rencana atau perbaikan. 
Seperti dijelaskan bahwa data akan berfungsi sebagai alat atau dasar menetapkan usaha-usaha kearah tindakan-tindakan perbaikan/korektif apabila ternyata ada proses kerja yang salah. Hal ini dilakukan setelah evaluasi terhadap kondisi nyata, sehingga tindakan korektif yang tepat bisa diambil. Dengan demikian satu hal terpenting disini ialah sample (contoh) menentukan apakah data yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi nyata atau tidak. 

Proses Pengambilan Keputusan 
Data yang diperlukan untuk aktifitas pengendalian mutu pada umumnya bisa diklasifikasikan sebagai : 

a. Data hasil pengukuran (measurement data) 
- Kadang-kadang disebut continous data atau variable data. 
- Contoh : panjang, berat, waktu, dll. b. Data hasil perhitungan (countable data) 
- Data produk atau hasil kerja disini biasanya dikategorikan sebagai baik atau cacat (atribut data). 
- Contoh : jumlah produk cacat, jumlah kesalahan kerja yang dibuat, dan lain-lain. 

Selanjutnya beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam pengumpulan data ialah : 

1. Sasaran pengumpulan data harus diidentifikasikan jelas. 
2. Pengelompokkan dan pengaturan data harus sesuai dengan maksud dan tujuan pengumpulan data. 
3. Prosedur dan proses pengumpulan data harus diketahui dengan jelas. 
4. Cara pengumpulan data dan pencatatannya yang dibutuhkan untuk pengumpulan dara ini harus ditentukan secara benar. 
5. Usahakan data dari berbagai sumber yang mungkin agar diperoleh data pembanding yang relevan. 

(Wignjosoebroto, 2006: 258-261).

No comments:

Post a Comment