Wednesday, 25 September 2013

Keuntungan dan Biaya Pelaksanaan Pengendalian Kualitas

Keuntungan dan Biaya Pelaksanaan Pengendalian Kualitas 

Dengan melaksanakan manajemen kualitas yang baik, maka banyak keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan, yaitu antara lain : 
- Menambahkan tingkat efisiensi dan produktifitas kerja. 
- Mengurangi kehilangan-kehilangan (losses) dalam proses kerja yang dilakukan, seperti mengurangi waste product atau menghilangkan waktu-waktu yang tidak produktif. 
- Menekan biaya dan save money. 
- Menjaga agar penjualan (sales) akan tetap meningkat, sehingga profit tetap diperoleh (meningkatkan potensi daya saing). 
- Menambah realibilitas produk yang dihasilkan. 
- Memperbaiki moral pekerja tetap tinggi. 
- Dan lain-lain. 
Semakin tinggi kualitas suatu produk akan menyebabkan semakin tinggi pula biaya/beban yang harus dipikul perusahaan. Akan tetapi yang jelas tetap diharapkan mampu dikembalikan dalam bentuk profit yang disebabkan produk yang bersangkutan memiliki daya saing tinggi. Biaya-biaya yang harus dipikul dalam kaitannya dengan program pengendalian kualitas antara lain sebagai berikut: 

1. Biaya-biaya yang dikeluarkan akibat kesalahan/cacat yang terjadi (failure cost) yang dalam hal ini bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : 
- Internal failure cost, yaitu seperti scrap, rework, retest down time, dan lain-lain. Biaya tidak akan terjadi bila tidak ada defect yang diketemukan dalam produk yang dihasilkan sebelum diterimakan ke pelanggan (customer). 
- External failure cost, yaitu biaya yang dikeluarkan akibat defect yang diketemukan setelah barang dikirim/didistribusikan dan diterima oleh customer seperti halnya dengan warranty charges, returned material/product, complaint adjustment, dan lain-lain. 

2. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum kesalahan terjadi (preventive cost) seperti pelatihan operator, kelengkapan peralatan kerja, instruksi kerja, inspeksi yang tepat, dan lain-lain. 

3. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan kegiatan inspeksi dan evaluasi produk (inspection/appraisal cost) seperti biaya untuk incoming material inspection, inspection and test, kalibrasi peralatan kerja dan pengukuran, material/produk yang rusak karena kegiatan destructive test, dan lain-lain. 

Berdasarkan suatu penelitian, maka total quality cost yang terdiri atas failure cost, preventive cost dan inspection cost tersebut di atas akan meliputi sekitar 15% dari total production cost, dengan perincian detail sebagai berikut : 

Failure cost : 
70 % 
Preventive cost : 
5 % 
Inspection/Appraisal cost : 
25 % 
Total quality cost : 
100 % 

Pengertian mengenai biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengendalian kualitas (quality cost) akan selalu dikaitkan dengan produk-produk cacat (defect), yaitu biaya untuk menemukan, memperbaiki, dan menghindari/mencegah cacat. Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa perusahaan di Amerika Serikat diperoleh data bahwasanya kesalahan-kesalahan ,yang terjadi yang mempengaruhi kualitas produk, 15% berasal atau merupakan tanggung jawab operator langsung, sedangkan 85% merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan itu sendiri (Wignjosoebroto, 2006: 256-258). 

Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding). 
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses inspeksi, pengujian, analisis statistik, dan lain-lain. Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau standar yang telah ditetapkan. 

Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction). Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan koreksi- koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pengendalian kualitas. 

Pelaksanaan yang cermat terhadap upaya pengendalian kualitas dari rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of comformance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto, 2006: 251-254).

No comments:

Post a Comment