Wednesday, 25 September 2013

Kualitas Sebagai Tolak Ukur Kinerja Bisnis

Kualitas Sebagai Tolak Ukur Kinerja Bisnis 

Upaya dalam memperbaiki kualitas produk, proses, dan untuk lebih lengkapnya, semua aspek kinerja bisnis, merupakan kekuatan yang medorong six sigma. Kualitas bisa menjadi konsep yang membingungkan, sebagian karena banyak orang memandanga kualitas berdasarkan peranan individu mereka dalam rantai nilai produksi-pemasaran. 

Selain itu, pengertian kualitas terus berevolusi seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaan profesi yang berhubungan dengan kualitas. Tidak ada satu pun konsultan maupun pelaku bisnis yang setuju pada satu pengertian kualitas yang universal. Sebuah penelitian yang menanyakan tentang definisi kualitas kepada manajer 86 perusahaan di bagian timur Amerika Serikat menghasilkan beberapa jawaban yang berbeda, diantaranya : 

1. Kesempurnaan 
2. Konsistensi 
3. Pengurangan limbah 
4. Kecepatan pengiriman 
5. Ketaatan pada peraturan dan prosedur 
6. Penyediaan produk yang baik dan bermanfaat 
7. Melakukan hal yang benar sejak awal 
8. Memuaskan pelanggan 
9. Pelayanan pelanggan secara total dan memuaskan 

“Definisi” ini berhubungan dengan disain produk (no. 6), kepuasan pelanggan (no. 8 dan 9), dan kinerja operasi (no. 1, 2, 3, 4, 5, dan 7). Artinya, melihat pengertian kualitas dari berbagai sudut dapat membantu kita untuk memahami peran kualitas di berbagai bagian sebuah organisasi bisnis (James R. Evans dan William M. Lindsay, 2007: 11-12). Halnya dengan warranty charges, returned material/product, complaint adjustment, dan lain-lain.

2. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan sebelum kesalahan terjadi (preventive cost) seperti pelatihan operator, kelengkapan peralatan kerja, instruksi kerja, inspeksi yang tepat, dan lain-lain. 

3. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan kegiatan inspeksi dan evaluasi produk (inspection/appraisal cost) seperti biaya untuk incoming material inspection, inspection and test, kalibrasi peralatan kerja dan pengukuran, material/produk yang rusak karena kegiatan destructive test, dan lain-lain. 

Berdasarkan suatu penelitian, maka total quality cost yang terdiri atas failure cost, preventive cost dan inspection cost tersebut di atas akan meliputi sekitar 15% dari total production cost, dengan perincian detail sebagai berikut : 

Failure cost : 70 % 
Preventive cost : 5 % 
Inspection/Appraisal cost : 25 % 
Total quality cost : 100 % 

Pengertian mengenai biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengendalian kualitas (quality cost) akan selalu dikaitkan dengan produk-produk cacat (defect), yaitu biaya untuk menemukan, memperbaiki, dan menghindari/mencegah cacat. Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa perusahaan di Amerika Serikat diperoleh data bahwasanya kesalahan-kesalahan ,yang terjadi yang mempengaruhi kualitas produk, 15% berasal atau merupakan tanggung jawab operator langsung, sedangkan 85% merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan itu sendiri (Wignjosoebroto, 2006: 256-258).

2. Mencari kerusakan, kesalahan, atau cacat (defect finding). 
Aplikasi dan pemakaian metode-metode yang spesifik untuk proses inspeksi, pengujian, analisis statistik, dan lain-lain. Proses untuk mencari penyimpangan-penyimpangan terhadap tolak ukur atau standar yang telah ditetapkan. 

3. Analisa dan tindakan koreksi (defect analysis and correction). 
Menganalisa kesalahan-kesalahan yang terjadi dan melakukan koreksi- koreksi terhadap penyimpangan tersebut. Kegiatan ini merupakan tanggung jawab dari bagian pengendalian kualitas. 

Pelaksanaan yang cermat terhadap upaya pengendalian kualitas dari rancangan produk (quality of design) dan kualitas kesesuaian (quality of comformance) akan memberikan tingkat kualitas performance dari produk yang dihasilkan (quality of performance) (Wignjosoebroto, 2006: 251-254).

No comments:

Post a Comment